Penelitian Sebut Anak Indonesia dari Keluarga Miskin akan Tetap Miskin Saat Menginjak Usia Dewasa, Kenapa?

Jumat, 15 November 2019 | 10:48
IST

Negara kaya yang jatuh menjadi negara miskin

Laporan Wartawan GridHype.ID, Ruhil I. Yumna

GridHype.ID-Tak ada yang ingin hidup terjerembap di jurang kemiskinan.

Dari zaman ke zaman kemiskinan terus menjadi permasalahan yang dihadapi hampir di semua negara.

Tak peduli, itu negara maju atau berkembang seperti halnya di Indonesia kemiskinan tetap menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah negara.

Baca Juga: Raul Lemos Berkali-kali Ungggah Soal Selingkuh, Mantan Istri Beri Komentar Menohok: Diam & Telan Walau Pahit

Indonesia sebagai negara berkembang tentu menghadapi permasalahan ini.

Mirisnya, dilansir dari Tribunnews.com disampaikan bahwa pengkategorian penduduk miskin di Indonesia masih tergolong di bawah standar dunia.

Hal ini disampaikan langsung oleh anggota Komisi IV DPR RI Nevi Zuairina.

"Standar kemiskinan dunia itu 2 dollar AS.

Sedangkan di kita hanya 1 dollar AS. Jika kita mengikuti standar dunia, maka akan terjadi lonjakan yang sangat drastis di negara kita,” kata Nevi, seperti yang dikutip dari Tribunnews.com pada Senin (11/11/2019).

Berdasarkan rilisan Badan pusat Statistik (BPS) pada Maret 2019 standar kemiskinan masyarakat Indonesia adalah Rp 425.250 per kapita per bulan.

Untuk komposisi garis kemiskinan makanan Rp 313.232 (73,66 persen) dan garis kemiskinan bukan makanan Rp 112.018 (26,34 persen).

Baca Juga: Jangan Lagi Dibuang, Kulit Bawang Merah Ternyata Simpan Khasiat Kesehatan yang Luar Biasa, Salah Satunya Menurunkan Risiko Kanker Usus

Dari hal tersebut menunjukkan bahwa orang miskin Indonesia memiliki pendapatan sebesar Rp 14.175 setiap harinya atau sekitar 1 dollar AS.

Semakin memperburuk permasalahan soal kemiskinan, sebuah penelitian mengungkap jika di Indonesia, anak dari keluarga miskin akan tetap miskin saat dewasa.

Dilansir dari Kompas kesimpulan tersebut didasarkan pada penelitian yang dilakukan oleh para peneliti dari Smeru Research Institute lewat penelitian berjudul Effect of Growing up Poor on Labor Market Outcomes: Evidence from Indonesia, yang dipublikasikan oleh Asian Development Bank Institute.

Dari hasil penelitian itu terungkap, anak yang di umur 8-17 tahun hidup dalam kemiskinan, ketika bekerja pendapatannya akan 87 persen lebih rendah dari mereka yang kecilnya tidak miskin.

Penelitian itu sendiri merupakan penelitian jangka panjang pada 22.000 orang dari 7.224 keluarga yang dilakukan tahun 1993, 2000, 20017 dan 2014.

Para peserta sendiri berasal dari 13 provinsi dan mewakili 83 persen populasi Indonesia.

Peneliti mendata para peserta yang berusia 8-17 pada tahun 2000 dan 2007.

Baca Juga: Makanan Bergizi ini Justru Bisa Sangat Berbahaya Bagi Kesehatan Jika Dikonsumsi Pada Waktu yang Salah, Salah Satunya Makan Pisang di Malam Hari

Lalu para peserta ini akan dikontak lagi saat mereka telah dewasa.

Awalnya ada tujuh hal yang dijadikan sebagai indikator atau penentu orang miskin.

Indikator ini didasarkan pada hal yang berpengaruh bagi mereka yang miskin dan tidak.

Tujuh indikator yang dicatat para peneliti yakni kemampuan kognitif dan matematika, lama bersekolah, kapasitas paru-paru, informasi tentang bagaimana mereka mendapat pekerjaan, dan kesehatan mental.

"Contoh, karena miskin, maka tidak sehat. Jadi, pada saat dewasa sakit-sakitan, dan akhirnya tidak bisa sukses di dunia kerja," kata salah satu penelitinya, Daniel Suryadarma kepada Kompas.com, Rabu (14/11/2019).

Saat penelitian itu dilakukan peneliti justru menemukan bahwa tidak ada satu pun dari tujuh indikator yang bisa mengindikasikan anak akan tetap miskin setelah dewasa.

"Jadi, ada mediator lain yang tidak ada di data yang menjelaskan hubungan antara kemiskinan saat kecil dan pendapatan saat dewasa," ujar Daniel.

Baca Juga: Dipercaya Sejak Dulu, Jika Ayam Jago Berkokok Pada Malam Hari Pertanda Akan Terjadi ini Esok Harinya

Daniel dan teman-teman penelitinya belum dapat memastikan apa yang membuat seseorang sulit terlepas dari jerat kemiskinan saat mereka dewasa.

Hal yang bisa dipastikan adalah anak-anak miskin ini punya selisih pendapat hingga 91 persen dibanding mereka yang kecilnya tidak pernah miskin.

Sebuah hal lain yang lebih mengejutkan juga ikut ditemukan.

Mereka yang paling terpuruk justru berasal dari kelompok kedua termiskin bukannya yang berada di paling bawah.

Aneh bukan? kenapa justru bukan yang termiskin?

Menurut penjelasan Daniel hal tersebut karena mereka yang ada di kelompok kedua termiskin sering mengalami naik-turun status.

"Salah satu penjelasannya karena mereka lebih sering naik-turun status kemiskinan, kadang miskin, kadang tidak.

Baca Juga: Jagung Manis Ternyata Bisa Sangat Berbahaya Hingga Miliki Risiko Kematian Jika Salah Mengolahnya

Jadi bisa saja kadang dapat bantuan pemerintah, kadang tidak. Kalau yang paling miskin kan hampir selalu dapat bantuan," kata Daniel.

Keluarga miskin akan membesarkan anak-anaknya menjadi tenaga kerja berpenghasilan rendah, bahkan setara dengan mereka yang punya keterbatasan fisik atau disabilitas.

Hasil penelitian itu juga menyebutkan bahwa mereka yang berpenghasilan tinggi ketika dewasa, bukan karena punya keahlian lebih.

Diperoleh pula kesimpulan bahwa anak-anak dari keluarga miskin yang punya keahlian lebih, nyatanya juga tak bisa sesukses anak-anak yang tak miskin.

Daniel juga menyebutkan jika hal seperti ini tak hanya ditemukan di Indonesia namun negara lain juga.

"Temuan di Indonesia ini mirip dengan di negara lain," kata Daniel.

(*)

Editor : Ruhil Yumna

Sumber : tribunnews, Kompas

Baca Lainnya