Baru Juga Sedikit Bernapas Lega, Kini Muncul Varian Baru Virus Corona Delta Plus, Penyebarannya Sudah Sampai Negara Tetangga

Jumat, 12 November 2021 | 05:45
Shutterstock

Studi baru ilmuwan mengidentifikasi gen yang bertanggung jawab dalam menggandakan risiko gagal pernapasan akibat COVID-19.

GridHype.ID - Publik mulai bisa bernapas lega dengan angka kasus positif Covid-19 yang mulai melandai.

Kendatipun begitu kewaspadaan kita akan virus ini tak boleh turun.

Pasalnya virus ini terus berkembang dan menciptakan berbagai varian baru.

Salah satu varian baru virus corona AY.4.2 atau Delta Plus dikabarkan telah sampai ke negara tetangga, Malaysia.

Dikabarkan varian delta plus ini bisa menyebar dengan lebih mudah dibandingkan dengan varian Delta.

Tetapi belum ada bukti jika varian ini menyebabkan penyakit yang lebih buruk, dan ilmuwan yakin vaksin masih dapat bekerja dengan baik untuk memberikan perlindungan.

"Varian AY.4.2 sudah sampai di Malaysia, tapi belum atau tidak terdeteksi di Indonesia sampai sekarang," kata Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin pada Senin (08/11).

Dikutip dari Kompas.com berikut ini beberapa hal yang perlu diketahui tentang virus corona varian Delta AY.4.2:

Baca Juga: Kabar Baik di Tengah Pandemi, Vaksinasi Covid-19 untuk Anak Usia 6-11 Tahun Bakal Digelar di Sekolah, Berikut Syarat yang Harus Disiapkan

1. Terdeteksi di Inggris

Dikutip dari Medical News Today, 21 Oktober 2021, Badan Keamanan Kesehatan Inggris melaporkan ditemukannya subtipe baru dari varian Delta, yang disebut AY.4.2.

Subvarian ini menyebar di Inggris telah menimbulkan kekhawatiran.

Varian tersebut menyumbang 6 persen dari semua sekuens genetik SARS-CoV-2 per Minggu, 27 September 2021.

Selama 28 hari terakhir, Inggris telah mencatat jumlah kasus harian tertinggi dibanding negara lain, peringkat kedua setelah Amerika Serikat.

2. Keturunan varian Delta

Varian AY.4.2 merupakan keturunan atau subvarian dari varian Delta merupakan varian paling dominan di Inggris.

Subvarian ini dibedakan oleh dua mutasi pada protein lonjakannya, yang disebut Y145H dan A222V. Namun, tidak ada mutasi dalam domain pengikatan reseptor.

Ini menunjukkan bahwa mutasi tidak mungkin menyebabkan peningkatan besar dalam penularan atau membantu virus menghindari sistem kekebalan.

Baca Juga: Vaksinasi Masih Gencar Dilakukan Pemerintah Demi Memutus Penularan Virus, Ternyata ini Alasan Tetap Menerima Vaksin Booster Meski Sudah Divaksin

AY.4.2 tidak dapat mendorong peningkatan jumlah kasus yang terjadi baru-baru ini di Inggris.

Dengan kata lain, kemunculan AY.4.2 tidak sebanding dengan infeksi varian Alpha atau Delta, dalam hal peningkatan transmisibilitas.

3. Masa inkubasi lebih singkat

Dilansir dari Healthline, 21 Oktober 2021, data menunjukkan AY.4.2 bisa 10 persen lebih menular daripada varian Delta yang paling umum di Inggris.

Direktur di University College London Genetics Institute, Francois Balloux melalui Twitternya mengatakan, jika varian baru 10 persen lebih mudah menular dan memiliki frekuensi 10 persen dalam populasi, ini sama dengan hanya 1 persen lebih banyak kasus setiap 5 hari.

Namun, para ahli mengatakan bahwa lebih menular tidak selalu berarti lebih mengkhawatirkan.

“Nah, menular bukan berarti lebih berbahaya. Bukan berarti lebih ganas,” kata Dr. Len Horovitz, spesialis penyakit dalam dan paru di Lenox Hill Hospital di New York.

Varian AY.4.2 tidak lebih menular, tetapi bisa menyebar dengan cepat.

Artinya, masa inkubasi virus lebih pendek, sehingga dapat menular lebih cepat dan lebih mudah menyebar daripada yang membutuhkan inkubasi lebih lama.

Baca Juga: Digadang Jadi Antibodi Covid-19, Kuning Telur Bisa Jadi Vaksin Pasif yang Netralisasi Virus

“Penularan tidak sama dengan virulensi. Jadi kami tidak tahu apakah kasus ini akan lebih serius,” tegasnya.

4. Efektivitas vaksin

Para ahli mengatakan bahwa meski varian AY.4.2 lebih menular tidak berarti lebih berbahaya.

Adapun vaksin saat ini sangat efektif melawan varian yang beredar saat ini.

Dokter dan Direktur Global Health, Northwell Health di New York Cioe Pena mengatakan bahwa memvaksinasi setiap orang dewasa lebih penting daripada booster.

Semakin distribusi dan suntikan vaksin diberikan secara luas kepada masyarakat dunia, semakin kecil kemungkinan munculnya varian baru.

“Vaksinasi anak usia 5 hingga 11 tahun juga akan banyak membantu, tetapi kuncinya adalah memvaksinasi orang dewasa yang belum menerima satu dosis vaksin,” kata dia.

Ia juga mengatakan bahwa memvaksinasi semua orang adalah cara terbaik untuk melindungi dari Covid-19, dan tanpa vaksinasi universal, pandemi tidak akan berakhir.

(*)

Baca Juga: Kabar Tak Sedap bagi Penyintas Covid-19, Kelompok Ini Ternyata Berisiko Alami Long Covid, Yuk Buruan Cek Kesehatan

Editor : Ruhil Yumna

Sumber : kompas, GridStar.ID

Baca Lainnya