Jokowi Serukan Benci Produk Asing, Mendag Lutfi Blak-blakan Soal Permainan 'Kotor' E-commerce: Sengaja Dibuat untuk Membunuh Kompetisi

Minggu, 07 Maret 2021 | 13:45
iStockphoto

Tak usah bingung, pelaku UMKM masih bisa dapat pinjaman untuk modal usaha.

GridHype.ID - Di masa pendemi ini perdagangan digital secara tak disadari ikut berkembang.

Peminimalisiran kontak fisik dari berbagai aktivitas sosial jadi salah satu pemicunya.

Namun, ada saja para pemain dalam industri ini yang bermaon curang.

Menteri Perdagangan (Mendag) Muhammad Lutfi menceritakan bagaimana perdagangan digital melalui platform e-commerce global secara nyata telah membunuh usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) Indonesia.

Hal itu terjadi lantaran adanya persaingan yang tidak sehat dalam perdagangan digital melalui skema predatory pricing yang berdampak pada hancurnya pelaku usaha dalam negeri.

Baca Juga: Telkom Resmi Tutup E-commerce Blanja.com Per 1 September Kemarin, Catat Cara Tarik Saldo yang Masih Tersisa

Predatory pricing adalah strategi penjualan dengan mematok harga yang sangat rendah sehingga menarik pembeli.

Tujuannya untuk menyingkirkan pesaing dari pasar dan mencegah pelaku usaha lain masuk ke pasar yang sama.

"Jadi harga yang sengaja dibuat untuk membunuh kompetisi. Ini membuat tidak terjadi keadilan atau kesetaraan dalam perdagangan," ujar Lutfi dalam konferensi pers Rapat Kerja Kemendag 2021, Kamis (4/3/2021).

Praktik perdagangan yang curang itu, lanjut dia, diketahui dari sebuah tulisan yang dikeluarkan oleh lembaga internasional.

Tulisan itu mengungkapkan hancurnya UMKM asal Indonesia yang bergerak di bisnis fesyen muslim, yaitu penjual kerudung atau hijab, akibat praktik predatory pricing yang dilakukan pihak asing.

Lutfi menjelaskan, bisnis UMKM penjual hijab tersebut sempat berjaya selama 2016-2018 hingga mampu mempekerjakan 3.400 karyawan.

Total gaji yang dibayarkan UMKM pada pekerjanya bahkan mencapai 650.000 dollar AS per tahun.

Namun, pada 2018, ada sebuah perusahaan asing yang menyadap seluruh informasi UMKM tersebut.

Baca Juga: Kisah Mantan Guru Bahasa Inggris yang Berhasil Jadi Orang Terkaya di Rusia, Berawal dari Cuti Hamil

Kemudian, perusahaan yang mencuri data itu membuat produk serupa di China.

"Ketika industrinya maju di 2018 tersadap oleh AI (artificial inteligence) yang digunakan oleh perusahaan digital asing, kemudian disedot informasinya dan dibuat industrinya di China, lalu diimpor barangnya ke Indonesia," jelas Lutfi.

Selanjutnya, produk hijab produksi China itu masuk ke Indonesia melalui platform e-commerce global. Harga jualnya pun sangat murah, hanya Rp 1.900 per hijab.

"Jadi ketika kita buka platform e-commerce tersebut, benar saja, ternyata hijab yang dijual perusahaan itu harganya hanya Rp 1.900 per piece," imbuh dia.

Kondisi tersebut tentunya mematikan UMKM lokal lantaran harga yang dipatok hijab asal China itu jauh lebih rendah dari hijab produksi dalam negeri.

Padahal, kata Lutfi, nilai bea masuk yang dibayarkan perusahaan tersebut dari impor jilbab hanya sebesar 44.000 dollar AS.

"Mereka membayar bea masuk 44.000 dollar AS, tapi menghancurkan industri UMKM tersebut, yang membayar biaya gajinya 650.000 dollar AS untuk 3.400 orang," jelas dia.

Baca Juga: Kabar Gembira! BLT UMKM Rp 2,4 Juta yang Ditunggu-tunggu Cair Bulan Maret Ini, Simak Syarat Penerima Bantuan dan Cara Dapatkannya

Laporan inilah yang pada akhirnya memicu Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengeluarkan pernyataan benci produk asing.

Menurut Lutfi, itu menjadi bentuk pernyataan kekecewaan kepala negara terhadap praktik kecurangan di perdagangan digital yang membunuh UMKM Indonesia.

"Itu bentuk kekecewaan beliau.

Bukan hanya kekecewaan beliau, tapi juga kita semua, karena praktik-praktik yang tidak adil ini menyebabkan kerusakan yang masif terhadap perkembangan UMKM kita," tutup Lutfi.

Jokowi geram dengan produk-produk asing

Instagram @jokowi

Jokowi

Presiden Joko Widodo (Jokowi) heran pernyataannya soal benci produk dari luar negeri, menjadi ramai.

Menurutnya, hak kita untuk tidak menyukai produk luar negeri.

"Kemarin saya sampaikan untuk cinta produk Indonesia, untuk bangga terhadap produk Indonesia."

Baca Juga: Tak Hanya Bantuan Tunai, UMKM Juga Perlu Bantuan Pemerintah dalam Hal Ini

"Dan boleh saja kita ngomong tidak suka pada produk asing, masa enggak boleh kita enggak suka, kan boleh saja tidak suka pada produk asing, gitu aja ramai."

"Saya ngomong benci produk asing, gitu aja ramai.," kata Jokowi dalam sambutan Rapat Badan Pengurus Pusat Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (BPP HIPMI) masa bakti 2019-2022, di Istana Kepresidenan Bogor, Jawa Barat, Jumat (5/3/2021).

Menurut Presiden, permintaan agar cinta produk dalam negeri dan benci produk asing tersebut, agar perbaikan ekonomi Indonesia melalui peningkatan permintaan tidak hanya menguntungkan produk-produk luar negeri, tapi juga harus meningkatkan konsumsi produk dalam negeri.

"Agar tercipta efek domino, sehingga dorongan untuk menggerakkan roda ekonomi di dalam negeri semakin besar," jelas Jokowi.

(*)

Editor : Ruhil Yumna

Sumber : Wartakota, Kompas

Baca Lainnya