Kekurangan itulah yang coba mereka perbaiki.
Mereka membuat sistem pengunci resleting yang didesain dimana tas ciptaan mereka memiliiki aksesibilitas yang baik.
Izzipack, tas ransel ciptaan mereka diintegrasikan dengan aplikasi smartphone untuk memantau sisi baterai, mengaktifkan sistem alarm, dan melacak tas yang hilang atau dicuri dengan GPS tracker.
Selama pembuatan tas ini, para peneliti muda ini menemukan banyak kendala teknis.
Mereka merasa jika teknologi yang dibuat oleh timnya memang terbilang orisinil, sehingga banyak trial and error yang dilakukan saat coba diimplementasikan.
Selain itu, timnya juga merasa cukup kesulitan saat mengintegrasikan segala komponen elektrik dan mekanik pada tas yang notabenenya berbahan kain lunak.
“Jadi teknologinya harus kokoh, kedap air, tahan guncangan, tapi tas juga harus tetap elastis dan ringan,” ungkapnya yang mengaku sampai sekarang masih menemukan kendala teknik.
Tas ciptaan mereka ini lalu coba dibawa bertanding ke ajang Global Capsone Design Fair: Engineering Education Festival (E2Festa) 2019, akhir November lalu.
Baca Juga: Aura Kasih Diisukan Gugat Cerai Suami, Begini Jawaban Humas Pengadilan Agama
Dua putra-putri bangsa itu bergabung bersama tim dari Chonbuk National University Korea. Dalam ajang tersebut, keduanya meraih Excellence Award Winner atau setara dengan predikat Runner Up.
Marchio menyatakan jika timnya merupakan tim delegasi dari Hub of Innovation Chonbuk National University.