Bikin Geger Seantero Jagat, Ada 8 Kasus Sudah Terdeteksi di Tanah Air, Menkes Sebut Waktu Ini Diprediksi Akan Jadi Puncak Omicron BA.4 dan BA.5

Selasa, 14 Juni 2022 | 14:15
Pixabay

(ilustrasi) Sudah ditemukan subvarian Omicron BA.4 dan BA.5 di Indonesia.

GridHype.ID -Kabar tak menyenangkan soal virus corona atau Covid-19 kembali datang.

Belum lama ini muncul kabar bahwamutasi virus corona subvarian Omicron BA.4 dan BA.5 telah terdeteksi di Indonesia.

Lantas, benarkah kabar soalsubvarian Omicron BA.4 dan BA.5 tersebut?

Mari kita simak ulasan lengkapnya berikut ini!

Melansir dari Intisari Online, saat ini, secara keseluruhan terdapat delapan kasus mutasi virus corona subvarian Omicron BA.4 dan BA.5.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menjelaskan, empat kasus tambahan pasien subvarian Omicron BA.4 dan BA.5 yang terdeteksi di Jakarta terpapar melalui transmisi lokal.

Sebelumnya, pemerintah telah mendeteksi empat kasus subvarian Omicron BA.4 dan BA.5 di Bali.

"Empat (transmisi lokal) terdeteksi di Jakarta dan satu terdeteksi di Bali tapi yang bersangkutan adalah tenaga media yang datang dari Jakarta. Jadi memang transmisi lokal ini sudah terjadi di Jakarta," ujar Budi dalam konferensi pers hasil evaluasi PPKM yang ditayangkan di YouTube Sekretariat Presiden, Senin (13/6/2022).

Kemenkes juga memprediksi kapan puncak Omicron BA.4 dan BA.5.

Baca Juga: Baru Juga Bernapas Lega, Indonesia 'Kecolongan' Subvarian Omicron BA.4 dan BA.5, Waspadai Gejalanya!

Menkes Budi Gunadi Sadikin memprediksi, puncak kasus virus corona subvarian Omicron BA.4 dan BA.5 akan terjadi pada minggu kedua atau ketiga Juli.

Dia mengatakan, biasanya gelombang varian baru virus akan mencapai puncak sekitar satu bulan sejak kasus pertama ditemukan.

"Jadi seharusnya di minggu kedua Juli (atau) minggu ketiga Juli kita akan melihat puncak kasus dari BA.4 BA.5 ini," kata Budi usai rapat terbatas bersama presiden dan sejumlah menteri di Istana Negara, Jakarta, Senin (13/6/2022).

Budi mengatakan, sejumlah negara di dunia saat ini tengah mengalami kenaikan kasus Covid-19 yang disebabkan oleh subvarian BA.4 dan BA.5.

Di Indonesia, sejauh ini terdapat 8 kasus subvarian baru tersebut.

Dari jumlah itu, 3 di antaranya merupakan imported case atau kasus impor yang masing-masing berasal dari Mauritius, Amerika, dan Brazil.

Ketiga warga negara tersebut terdeteksi subvarian BA.4 dan BA.5 saat menghadiri acara Global Platform for Disaster Risk Reduction di Bali, 23-28 Mei 2022.

Kemudian, 5 kasus lainnya merupakan transmisi lokal, 4 terdeteksi di Jakarta, dan satu lainnya di Bali.

"Hasil pengamatan kami menunjukkan bahwa kasus konfirmasi memang terjadi di Jakarta, juga di daerah Jawa Barat, di Banten, dan di Bali. Tetapi kami akan terus memonitor kondisinya masih relatif baik dibandingkan dengan negara lain," ujar Budi.

Baca Juga: Cuma Modal Madu Dicampur 4 Bahan Tradisional Ini, Tubuh Bebas dari Badai Omicron

Menurut hasil pengamatan, kata Budi, puncak dari penularan BA.4 dan BA.5 sekitar sepertiga dari puncak Delta dan Omicron.

Pasien BA.4 dan BA.5 yang dirawat di rumah sakit pun hanya sepertiga dari kasus Delta dan Omicron. Sedangkan kasus kematian subvarian BA.4 dan BA.5 sepersepuluh dari kasus kematian dua varian virus corona terdahulu itu.

"Jadi walaupun memang BA.4 dan BA.5 ini menyebabkan kenaikan kasus di beberapa negara di dunia, tetapi puncak dari kenaikan kasusnya maupun hospitalisasinya maupun kematiannya jauh lebih rendah dibandingkan Omicron yang awal," kata dia.

Kendati demikian, Budi mewanti-wanti seluruh pihak tetap waspada.

Ia mendorong masyarakat untuk segera mendapatkan vaksinasi booster atau dosis ketiga.

Warga juga diimbau untuk tetap memakai masker jika berada di kerumunan atau ruangan tertutup.

"Tidak ada ruginya kita bersikap hati-hati dan waspada," katanya.

Gejala Omicron BA.4 dan BA.5

Melansir dari TribunBata.id, ada beberapa gejala pasien BA.4 dan BA.5, yakni:

Baca Juga: Duh! Belum Juga Kelar, Dunia Kembali Digemparkan dengan Kemunculan Covid-19 Varian Baru, Omicron Siluman

- Demam atau kedinginan

- Batuk

- Sesak napas

- Kelelahan

- Nyeri otot

- Sakit kepala

- Hilangnya rasa atau bau

- Sakit tenggorokan

- Hidung tersumbat atau pilek

- Mual atau muntah

- Diare

- Pilek

Pemerintah Monitor Kapasitas RS dan Obat

Abraham Wirotomo selaku Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden mengatakan, pemerintah terus melakukan monitoring kapasitas rumah sakit, obat, dan oksigen untuk menghadapi masuknya Omircron BA.4 dan BA.5.

"Kita tidak boleh lengah, jangan terjegal menjelang finis," kata Abraham, Senin (13/6/2022).

Beberapa waktu ini, kasus Covid-19 pasca Lebaran mengalami kenaikan.

Omircron BA.4 dan BA.5 menjadi penyabab kenaikan kasus tersebut.

Diketahui, per 9 Juni 2020, terdapat penambahan 556 kasus.

Abraham mengatakan bahwa kenaikan kasus Covid-19 sejauh ini di Indonesia terpantau baik, karena angka positivity rate dan transmisi dilaporkan rendah.

Meski demikian, Abraham mengingatkan masyarakat untuk tetap menjaga protokol kesehatan dan melakukan vaksin booster bagi yang belum.

“Kenaikan angka kasus kita lihat sebagai warning. Kalo kita mau menjaga Indonesia tetap on track menuju endemi maka kita jangan abai protokol kesehatan dan menolak vaksin booster," ujar Abraham.

Baca Juga: Waspada di Tengah Badai Varian Omicron, Ternyata Bahan Alami ini Bisa Jadi Obat Alami Sembuhkan Sakit Tenggorokan

(*)

Editor : Helna Estalansa

Sumber : Intisari Online, TribunBatam.id

Baca Lainnya