Miris, Tetangganya Foya-foya Usai Terima Uang Miliaran Hasil Ganti Rugi Tanah, Kehidupan Nenek Ini Berbanding Terbalik

Senin, 22 Februari 2021 | 06:00
Istimewa via SURYA.co.id

Capture video viral warga Desa Sumurgeneng, Kecamatan Jenu, Kabupaten Tuban, beli mobil ramai-ramai.

GridHype.ID - Warga Tuban mendadak jadi miliarder usai warga menerima uang pembebasan tanah sampai miliaran rupiah.

Rezeki nomplok warga Tuban tersebut diperoleh usai mereka menjual tanah ke PT Pertamina.

Bahkan tersebar video yang merekam aktivitas warga di Kecamatan Jenu, Tuban ini beramai-ramai memborong mobil viral di sosial media.

Baca Juga: Tak Ikuti Jejak Warga Lain yang Langsung Borong Mobil, Pengunggah Video Miliarder Tuban Pilih Lakukan Ini dengan Uang Rp9,7 Miliar Hasil Penjualan Tanahnya

Semenjak warga Tuban menerima uang pembebasan tanah dengan nilai miliaran rupiah, daerah ini sampai dijaga TNI-Polri.

Mereka diterjunkan untuk mengamankan wilayah.

"Mungkin aja kan mereka yang membeli mobil itu enggak punya garasi. Mereka kita kasih imbauan agar memastikan keamanan dirinya dan hartanya," kata Kapolres Tuban AKBP Ruruh Wicaksono dikutip dari Kompas.com.

Baca Juga: Borong 176 Mobil Mewah Usai Jadi Miliarder Dadakan Setelah Jual Tanah ke Pertamina, Ini yang Dilakukan Warga hingga Bikin Tercengang

Babinsa Desa Sumurgeneng Serka Heri Purnomo memastikan, dirinya dan sejumlah personel berpatroli hampir setiap hari.

"Sejak ada pembebasan lahan pembangunan kilang minyak, saya hampir setiap hari standby di desa," tutur dia.

Warga Tuban sendiri sampai membeli mobil dalam waktu berdekatan dengan total 176 mobil.

Baca Juga: Kantongi Uang Rp 18 Miliar Usai Jual Tanah ke Perusahaan Ternama, Wanita Ini Mendadak Borong 3 Mobil Mewah hingga Dirikan TPA

Warga Tuban yang jadi miliarder dadakan tersebut nampaknya tidak dialami oleh sosok Tasimah.

Seperti yang diketahui, lahan yang dijual warga Tuban tersebut nantinya untuk proyek kilang minyak Grass Root Refinery (GRR), patungan Pertamina-Rosneft asal Rusia.

Dilansir dari Surya.co.id, dirinya hanya bisa melihat tetangganya menikmati hasil dari uang pembebasan lahan PT Pertamina tersebut.

SURYA.CO.ID/M Sudarsono
SURYA.CO.ID/M Sudarsono

Tarsimah, warga Dusun/Desa Sumurgeneng, Kecamatan Jenu, Kabupaten Tuban, yang tidak mendapatkan berkah menjual tanah ke Pertamina, Jumat (19/2/2021).

Baca Juga: 2 Bulan Tak Muncul di Hadapan Publik, Begini Kabar Terbaru Jack Ma Diduga Menghilang Usai Kritik Pemerintah China

"Tidak dapat apa-apa saya, ya hanya lihat orang yang jual tanah saja pada senang," katanya ditemui di rumah, Jumat (19/2/2021).

Ia mengaku, tak punya lahan untuk dijual ke perusahaan plat merah, hingga dia hanya menyaksikan keriuhan di kampungnya saat orang ramai-ramai beli mobil.

Bahkan jangankan tanah, untuk mencukupi kehidupan sehari-hari saja ia harus bertahan dengan bantuan dari pemerintah.

Baca Juga: Awalnya Hanya Seorang Pemulung, Pria Asal Madiun ini Berhasil Sukses dan Kaya Raya Berkat Tanaman Liar ini

Di dinding depan rumahnya, tertempel pamflet penerima bantuan pangan non tunai (BPNT) dan Program Keluarga Harapan (PKH).

"Tidak punya tanah, ya hanya rumah ini. Saya dan suami sudah tidak kerja, dapat bantuan dari pemerintah," ujarnya.

Di rumah itu ia tinggal bersama Parman (70) suaminya, yang kini mengalami sakit tidak bisa jalan.

Baca Juga: Jadi 'Standar' Orang Terkaya, 5 Miliarder Pemilik Bank Swasta di Indonesia

Kondisi itu membuatnya harus tetap bertahan dengan segala keterbatasan.

Ia juga bercerita saat ini kedua anaknya sudah tidak tinggal serumah, melainkan telah berkeluarga. Ada yang tinggal di luar kota.

"Ya seadanya bertahan, melihat tetangga pada jual tanah ya saya tidak bisa apa-apa, tidak punya lahan untuk dijual juga," ungkap sambil bersandar di pintu masuk.

Baca Juga: Terdengar Gemuruh Disangka Pesawat Jatuh, Ternyata Patung Raksasa Tertinggi di Asia Tenggara Runtuh!

Sementara itu, pendamping Bantuan Sosial Pangan (BSP) atau Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan (TKSK) Jenu, Imron mengatakan, sebelumnya ada 288 Keluarga Penerima Manfaat (KPM) BPNT di Desa Sumurgeneng.

Namun, setelah diverifikasi atas viralnya kampung miliarder, ditemukan 27 KPM yang dianggap sudah mampu karena telah menjual lahan ke Pertamina.

Kemudian mereka yang dianggap sudah mampu dicoret sebagai penerima BPNT melalui aplikasi sistem informasi kesejahteraan sosial next generation (SIKS-NG).

Baca Juga: Tergila-Gila dengan Seks, Playboy Tua Bangka ini Bahkan Siapkan Hadian Rp 1,7 Miliar Untuk Siapa Saja yang Bisa Membuatnya 'Mati' Karena Berhubungan Intim

"Sudah diverifikasi oleh petugas, yang mendapat ganti untung lahan harus dikeluarkan dari penerima BPNT," tutup Imron.

Menurut penuturan kepala desa Sumurgeneng, Guhanto semenjak penjualan tanah warga untuk proyek kilang minyak GRR, sudah ada 176 mobil dibeli.

Mobil yang dibeli warga itupun berbagai macam jenis, seperti Toyota Kijang Innova, Honda HR-V, Toyota Fortuner, Mitsubishi Pajero dan Honda Jazz.

Baca Juga: Bandar Narkoba ini Rela Bakar Uang Rp20 Miliar demi Hangatkan Putrinya yang Hipotermia Saat Kabur dari Kejaran Polisi

Gihanto menambahkan, ada 840 KK warga di desanya, namun yang lahannya dibeli perusahaan plat merah sekitar 225 KK.

Harga yang diterima warga untuk penjualan tanah per meter mulai dari Rp 600-800 ribu. Sehingga penjualan yang didapat warga rata-rata mencapai miliaran rupiah.

Untuk penjualan tanah paling sedikit Rp 36 juta, paling banyak warga sini Rp 26 miliar, sedangkan ada warga luar mendapat Rp 28 miliar.

Baca Juga: Hobi Kencani Artis Hollywood Meski Harus Rogoh Kocek Hingga Rp5 Miliar, Nasib Miliarder Malaysia Ini Malah Berakhir Tragis, Harta Ludes Tak Bersisa dan Jadi Buronan Internasional

"Kalau rata-rata Rp 8 miliar, satu rumah ada yang beli 2-3 mobil. Sisanya buat beli tanah lagi, tabungan, bangun rumah dan usaha," pungkasnya.

Sekadar diketahui, lahan warga dihargai apraisal Rp 600-800 ribu per meter, menyesuaikan lokasi.

Kebutuhan lahan untuk pembangunan kilang minyak GRR seluas 821 hektare. Rinciannya, lahan warga 384 hektare, KLHK 328 hektare dan Perhutani 109 hektare.

Investasi kilang minyak dengan nilai 16 miliar USD atau setara 225 triliun itu rencananya akan beroperasi di 2026. Di mana kilang GRR ditarget mampu produksi 300 ribu barel per hari.

(*)

Editor : Nailul Iffah

Sumber : Kompas.com, SURYA.co.id

Baca Lainnya