Lagi-lagi Kembali Terjadi, Diduga Lantaran Kecanduan Game Online, Bocah 12 Tahun Meninggal Dunia Usai Mengeluh Sakit Kepala

Jumat, 26 Februari 2021 | 15:30
istimewa

Pemakaman Raden Tri Sakti meninggal dunia karena gangguan syaraf dan mengeluh sakit kepala. Dokter menduga terkena radiasi hape, karena kecanduan game online.

GridHype.ID - Lagi-lagi terjadi, lantaran kecanduan game online, seorang bocah berusia 12 tahun meninggal dunia.

Melansir dari Tribun Style, korban diduga sempat mengalami gangguan saraf.

Dugaan itu lantaran korban sempat beberapa kali mengeluhkan sakit kepala.

Baca Juga: Terungkap! Usai Mutilasi Mayat Rinaldi, Kedua Tersangka Sempat Tidur dan Main Game Online

Hal tersebut membuatnya kerap mengeluh sakit kepala.

Korban sendiri diketahui bernama Raden Tri Sakti merupakan warga Dusun Bangkuang, Desa Salam Jaya, Kecamatan Pabuaran, Subang, Jawa Barat.

Ia dikenal sangat suka bermain game online lewat ponsel.

Sehingga orang menyebut dirinya kecanduan game online.

Dokter mendiagnosa, Raden Tri Sakti meninggal dunia karena gangguan saraf akibat radiasi smartphone.

Babinsa Desa Salam Jaya Sertu Sugeng turut memberikan keterangan,

Baca Juga: Digilai Wanita karena Pesonanya, Begini Jawaban Ariel NOAH saat Ditanya Rahasianya

Ia mengatakan bahwa Raden sebelum meninggal sempat dirujuk ke RSU Siloam Purwakarta.

"Menurut Keterangan dari pihak keluarga, almarhum di bawa berobat ke RSU Siloam Purwakarta bulan lalu karena sering mengeluh sakit kepala," ujar Sertu Sugeng saat dikonfirmasi Tribun melalui sambungan telepon, Rabu (24/2/2021).

Sugeng mengatakan, berdasarkan hasil diagnosa dokter RSU Siloam, Raden Tri Sakti mengalami gangguan saraf akibat radiasi.

“Kata dokternya ada gangguan syaraf yang kemungkinan diakibatkan radiasi HP," katanya.

Ia menambahkan, bocah 12 tahun tersebut sempat menjalani rawat inap selama dua pekan.

"Katanya juga dirawat selama 16 hari, namun sama sekali tidak ada perubahan."

"Bahkan kaki dan tangannya tidak bisa digerakan sama sekali, akhirnya korban dibawa pulang,” tutur Sertu Sugeng.

Baca Juga: Habiskan Waktu 22 Jam Sebulan Penuh, Remaja Malang Ini Terpaksa Derita Penyakit Mengerikan!

Meski kondisi Raen Tri Sakti semakin parah, pihak keluarga terpaksa membawa pulang dan dilanjutkan untuk berobat jalan.

"Mungkin karena tak kunjung membaik, makannya dibawa pulang, tapi tetap berobat jalan di RSU Siloam," lanjutnya.

Akan tetapi, bocah 12 tahun tersebut tak ampu bertahan dan akhirnya meninggal dunia pada Selasa (23/2/2021).

"Almarhum sudah dikebumikan, namun bukan positif Covid-19, itu jelas karena gangguan syaraf," pungkas Sertu Sugeng.

4 bahaya game online untuk kesehatan

Pixabay
Pixabay

Ilustrasi - Pemuda yang dikira buta karena keseringan main game online ternyata miliki penyakit serius.

Bermain game online saat sedang jenuh atau di waktu luang memang sangat menyenangkan.

Namun, tahukah Anda bahwa game online juga bisa berefek negatif pada kesehatan fisik dan mental kita?

Melansir laman resmi Kementrian Kesehatan Indonesia, game online tak hanya disebut bisa menyebabkan adiksi tetapi juga bisa berbagai keluhan fisik, serta perubahan struktur dan fungsi otak.

Baca Juga: Buktikan Ketulusannya, Pria Ini Nikahi Gadis Lumpuh dengan Modal Rp11 Juta

Melansir dari berbagai sumber, berikut efek kesehatan yang ditimbulkan akibat terlalu banyak bermain game online:

1. Kecanduan

Salah satu masalah kesehatan utama yang ditemukan pada anak-anak dan remaja yang terlalu banyak bermain video game online adalah kecanduan.

Banyak studi uji klinis menunjukkan bahwa obsesi yang muncul akibat terlalu banyak menghabiskan waktu bermain game online sama dengan penyalahgunaan alkohol atau narkoba.

Efek dari kecanduan ini dimanifestasikan melalui kurangnya fokus pada kegiatan sehari-hari lainnya, kurangnya perhatian di kelas, dan pemikiran yang konstan tentang permainan.

Bahkan, Organiasi Kesehatan Dunia (WHO) telah menetapkan kecanduan game online sebagai salah satu jenis penyakit gangguan mental (mental disorder).

Melansir laman SehatQ, kecanduan game juga bisa muncul dibarengi kelainan mental lainnya, seperti stres, depresi, serta gangguan kecemasan.

2. Gangguan penglihatan

Terlalu banyak bermain game online juga bisa meningkatkan risiko masalah kesehatan pada organ mata, terutama penurunan penglihatan.

Baca Juga: Beri Perhatian Lebih untuk 'Calon Anak', Pevita Pearce Bikin Ariel NOAH Tersenyum Sumringah Saat Ingatkan Hari Jadi Alleia Anata

Melansir Hello Sehat, mata manusia tidak mempunyai proteksi yang cukup dari paparan sinar biru, baik yang berasal dari sinar matahari maupun peralatan elektronik.

Riset dari Harvard membuktikan bahwa sinar biru telah lama diidentifikasikan sebagai sinar yang paling berbahaya bagi retina.

Setelah menembus bagian luar mata, sinar biru akan mencapai bagian terdalam mata, yaitu retina, dan bisa menimbulkan efek jangka panjang berupa kerusakan pada retina.

Selain itu, paparan sinar biru yang berlebihan juga bisa menyebabkan peningkatan risiko degenerasi makula, glaukoma, dan penyakit retina degeneratif yang berujung pada kebutaan.

3. Obesitas

Terlalu banyak bermain game membuat kita malas bergerak.

Pasalnya, hanya mata dan tangan saja yang fokus bekerja saat bermain game.

Sementara bagian tubuh lainnya diam tidak bergerak.

ika hal ini dilakukan terus menerus, tentu akan berefek pada obesitas.

Baca Juga: Asyik Main Game Online, Pria Ini Tak Sadar Menenggak Minuman Hingga Tewas

Para pecandu game juga kerap menerapkan pola makan buruk. Tentunya, ini akan menyebabkan berbagai masalah kesehatan.

4. Sindrom Quervain

Melansir laman WebMD, sindrom quervain adalah kelainan yang disebabkan peradangan tendon.

Akibatnya, ibu jari hingga pergelangan tangan terasa sakit.

Sindrom ini disebabkan oleh aktivitas yang berfokus pada gerakan tangan berulang, salah satunya bermain video game.

Melansir Hello Sehat, rasa sakit tersebut biasanya muncul saat memegang atau mencubit sesuatu.

Rasa sakit bisa tambah parah saat kita mencoba untuk menggerakan jempol atau memutar pergelangan tangan.

Pada beberapa kasus, rasa sakit bisa menjalar ke sekujur lengan.

(*)

Editor : Ruhil Yumna

Sumber : kompas, Tribun Style

Baca Lainnya