Masih Aktif Tatap Muka, 3 Sekolah di Sidoarjo Tetap Masuk Selama Pandemi Covid-19, Ternyata Ini Alasannya

Rabu, 21 Oktober 2020 | 10:00
(Freepik)

(Ilustrasi Sekolah)

GridHype.ID - Pandemi virus corona atau Covid-19 hingga kini masih mewabah di Indonesia.

Para siswa pun terpaksa belajar di rumah melalui sekolah daring.

Namun, di Indonesia ada beberapa sekolah yang tetap masuk meski pandemi.

Ya, ada tiga sekolahdi Sidoarjo, Jawa Timur yang masih aktif tatap muka belajar di sekolah selama pandemi Covid-19.

Penyebabnya, karena belum ada akses internet di kawasan tersebut.

Baca Juga: Tampil Polosan Tanpa Makeup, Wajah Sherina Munaf Disebut Tak Menua : Kirain Lagi Pake Seragam Sekolah

Sekolah yang tetap masuk itu antara lain SDN Gebang II yang berada di wilayah Kelurahan Gebang, Kecamatan Kota, Sidoarjo; SDN Sawohan II dan SMPN Satu Atap Buduran yang lokasinya di Desa Sawohan, Kecamatan Buduran, Sidoarjo.

Kendati masuk wilayah kota, lokasi tiga sekolahan itu bisa dibilang terpencil. Butuh waktu sekitarsatu jam perjalanan menggunakan perahu untuk sampai di tempat itu. Dan jalur sungai adalah jalan utama menuju ke sana.

"Kita datang langsung, melihat kondisinya seperti apa," kata Pj Bupati Sidoarjo Hudiyono saat berkunjung ke sana bersama sejumlah pejabat Pemkab Sidoarjo, Selasa (20/10/2020).

Pertama rombongan tiba di Dusun Pucu'an, Kelurahan gebang. Begitu turun dari perahu, Hudiyono berjalan kaki sampai beberapa ratus meter menuju SDN Gebang II.

Baca Juga: Cinta Lama Belum Kelar, Iqbaal Ramadhan Tulis Pesan Romantis untuk Kekasihnya Zaman Sekolah, Bikin Hati Fansnya Ambyar

Di sana, dia melihat sendiri ruang kelas beralas kayu dan bangunannya juga dari kayu.

Satu bangunan lain di sekolah yang berada di antara tambak itu sudah tembok, namun butuh perbaikan.

"Total siswa di sini 18 orang. Kelas 1 ada 2 siswa, melas 2 sebanyak 4 siswa, kelas 3 ada 7, kelas 4 tidak ada siswanya, kelas 5 ada 5 anak, dan kelas 6 juga tidak ada siswanya," ungkap Ihwan Praja Putra, guru di sekolah itu.

Ditanya tentang sistem pendidikan selama pandemi, diungkapkan bahwa sekolah tetap masuk. Sistemnya, satu minggu masuk sekolah dan satu minggu belajar di rumah.

Baca Juga: Masa Lalunya Dibongkar Sosok Ini, Atta Halilintar Pernah Lalukan Aksi Nekat karena Tak Punya Uang

"Terpaksa seperti itu, karena di sini belum ada jaringan internet. Dan para guru, rata-rata juga dari kota," urainya.

Mendapat penjelasan itu, Hudiyono kemudian menanyakan penerapan protokol kesehatan. Diketahui, semua siswa wajib cuci tangan sebelum masuk, selalu pakai masker, dan jaraknya dijaga.

Mendengar berbagai penjelasan, Hudiono pun bisa memaklumi kondisi itu. Apalagi, dia melihat data, ternyata kawasan itu selama ini memang 0 alias tidak pernah ada warga yang terpapar covid-19.

"Di sini zero covid-19. Sehingga kita bisa memaklumi dengan kondisi yang serba terbatas ini. Namun, saya tetap menekankan agar protokol kesehatan selalu dijalankan dengan baik dan benar," urainya.

Baca Juga: Bisa Lakukan Banyak Hal, Nyatanya 5 Hal Ini Tidak Pernah Dirasakan Ratu Elizabeth II, Termasuk Pergi ke Sekolah

Hudiyono juga sempat berbincang dengan sejumlah warga. Beberapa aspirasi diserap, antara lain, warga ingin gedung sekolah itu direhab, dibantu agar ada akses internet masuk ke sana, dan meminta pembangunan jalan segera dilanjutkan. Supaya akses untuk sepeda motor atau jalur darat bisa tersambung sampai ke kota.

"Akses jalur darat yang menghubungkan Dusun Pucuk’an dengan dusun lainnya, seperti ke dusun Kalikajang dan dusun Kepetingan, Pemkab memang akan segera melanjutkannya. Agar semua bisa terhubung," kata Hudiyono.

Dusun Pucu'an dihuni oleh 153 penduduk atau 47 kepala keluarga (KK). Mayoritas penduduk, mata pencahariannya sebagai nelayan ikan dan pekerja tambak.

Baca Juga: Kemendikbud Beri Waktu Setor Nomor Ponsel yang Bakal Diberi Kuota Gratis, Catat Tanggalnya Jangan Sampai Kelewat!

Dari Pucu'an, Pj Bupati bersama rombongan kembali naik perahu menuju SDN Sawohan II yang menjadi satu dengan SMPN Satu Atap Buduran. Di sana, kondisinya tak jauh beda dengan sekolah sebelumnya.

Bangunan memang sudah tembok, tapi dindingnya sudah rusak di sana-sini. Bahkan ada satu kelas yang disekat jadi dua. Sekolah ini masuk wilayah Desa Sawohan, Kecamatan Buduran, Sidoarjo.

SDN Sawohan II memiliki 36 siswa, kelas 1 ada 6, kelas 2 ada 7 siswa, kelas 3 ada 8 anak, kelas 4 ada 6 siswa, kelas 5 ada 6 siswa, dan kelas 6 ada 4 anak.

Baca Juga: Mulai Bingung Bimbing Anak Belajar di Rumah Selama Pandemi? Tips Ini Bisa Jadi Solusinya

"Sedangkan SMP-nya, kelas 7 ada 9 siswa, kelas 8 sebanyak6 siswa, dan kelas 9 punya 9 orang siswa. Totalnya 24 orang siswa," kata Muhammad Mujib, Kepala Sekolah SMPN Satu Atap Buduran.

Di sana, selama pandemi juga tetap masuk. Dua kali dalam seminggu, siswa belajar tatap muka di sekolah. Kendalanya sama, karena tidak ada akses internet di kampung tersebut.

Artikel ini telah tayang di suryamalang.com dengan judul Tak Ada Internet, 3 Sekolah di Sidoarjo Tetap Masuk Selama Pandemi Covid-19

(*)

Editor : Nailul Iffah

Sumber : Suryamalang.com

Baca Lainnya