Privasi Makin Diobral, Waspada! Bahaya Oversharing di Media Sosial yang Tak Banyak Disadari

Jumat, 25 Februari 2022 | 14:45
ftadviser.com

Ilustrasi media sosial

GridHype.ID - Belakangan perkembangan teknologi dan informasi membuat kita dengan mudah bisa berkomunikasi dengan orang lain.

Salah satu platform yang kini kerap digunakan adalah media sosial.

Media sosial bak jadi kebutuhan yang bisa mempermudah kegiatan kita.

Sejumlah selebriti tanah air memang kerap mengekspos kehidupan pribadi mereka sebagai konten untuk diunggah ke media sosial.

Sebut saja, keluarga Lesty Kejora dan Rizki Billar, Raffi Ahmad dan Nagita, Baim Wong, Atta Halilintar dan Aurel Hermansyah, dan masih banyak lagi.

Media sosial tampak seperti platform yang seru untuk berbagi momen pribadi, seperti aktivitas sehari-hari, foto anak, dan lain sebagainya.

Namun, pertimbangkan juga risiko yang mungkin terjadi, karena apapun yang kalian unggah akan menjadi konsumsi ‘publik’, siapapun bisa melihat dan menyimpan foto atau video yang kalian unggah.

Saking senangnya mengunggah kiriman, tanpa sadar kita bisa kebablasan mengunggah informasi pribadi yang penting dan seharusnya tak perlu diketahui publik.

Seperti, lokasi rumah, sekolah anak, lokasi kantor, kegiatan yang menunjukkan keberadaanmu, dan masih banyak lagi.

Sadar atau tidak, semua informasi pribadi ini berpotensi memicu tindak kriminal dari oknum-oknum berbahaya.

Terlalu banyak mengumbar informasi seperti itu biasa disebut sebagai oversharing. Sebetulnya, tidak ada definisi baku soal apa itu oversharing.

Namun, umumnya, oversharing ditafsirkan sebagai perilaku terlalu banyak memberikan informasi detail yang tidak pantas tentang kehidupan pribadi diri sendiri ataupun orang lain.

Lantas, apa saja sih, bahaya yang mengintai di balik perilaku oversharing ini?

Kejahatan siber

Menurut laporan dari perusahaan software yang fokus di bidang keamanan, Tessian, ditemukan bahwa 84 persen orang mengunggah kiriman ke media sosial setiap minggunya.

Sebanyak 42 persen di antaranya membagikan banyak sekali informasi tentang hobi, ketertarikan, hubungan, dan lokasinya secara publik setiap hari.

Separuh dari pengunggah di media sosial bahkan membagikan nama dan foto anak-anaknya, dan 72 persen di antaranya memberikan ucapan selamat ulang tahun.

Tidak hanya informasi dari update status atau unggahan. Sebanyak 55 persen responden memampang informasi profilnya secara terbuka di Facebook dan hanya 33 persen dari responden yang menggembok akun Instagram (private).

Membagikan data pribadi secara berlebihan di media sosial akan membuka peluang terjadinya kejahatan siber.

Contohnya mulai dari nama lengkap, alamat, tanggal lahir, hingga nomor identitas. Semuanya bisa saja disalahgunakan oleh oknum tidak bertanggungjawab.

Jangan salah, kejahatan siber ini mungkin terjadi bukan hanya ketika Anda berbagi foto atau video saja.

Sekadar mengunggah Instagram story yang akan hilang dengan sendirinya setelah 24 jam pun tetap bisa disalahgunakan lewat modus malware, phishing, ransomware, dan semacamnya.

Bahaya mengintai anak-anak

Tingkah si kecil yang menggemaskan pasti bikin jari ibu-ibu gatal untuk mengunggahnya di media sosial.

Sah-sah saja kalau sesekali Anda ingin memamerkan kegiatan si kecil.

Namun, ketahuilah bahwa orangtua yang berlebihan mengunggah foto atau video anak-anak mereka juga bisa membuat mereka terancam.

Kerap kali, orangtua belum tahu batasan yang sehat untuk berbagi hal personal ke media sosial.

Secara psikologi, idealnya yang diunggah secara online adalah informasi yang berdampak positif pada anak, bukan sekadar eksistensi orangtua.

Belum lagi jika orangtua memaksa anak tampil sempurna demi konten di media sosial, saatnya berpikir ulang dan segera menghentikan kebiasaan ini.

Orangtua bisa juga belajar dengan tidak sembarangan mengunggah setiap momen anak bahkan ketika mereka terlelap secara online.

Anak berhak memberikan consent ketika dirinya diunggah ke media sosial. Jika anak masih di bawah umur untuk melakukan itu, orangtua tetap harus menghormatinya.

Pencurian identitas

Gaya hidup publik figur yang doyan oversharing, nyatanya menular pada orang biasa.

Kebiasaan para pesohor tanah air memicu orang biasa jadi ikut mengunggah keseharian mereka bersama keluarga, tanpa menyadari kalau Anda bisa jadi sasaran empuk para pencuri identitas.

Sederhananya, ini adalah praktik kriminal ketika seseorang meniru identitas seseorang demi keuntungan dirinya sendiri.

Mulai dari menyebarkan fitnah, membentuk persepsi negatif, hingga penipuan.

Sering sekali ada seseorang yang meniru identitas dan meminta bantuan teman agar segera ditransfer.

Hal semacam ini yang bisa terjadi pada orang yang oversharing.

Akses lokasi

Kerap kali, seseorang memberikan keterangan lokasi seperti alamat rumah, alamat kantor, alamat daycare, atau tempat dia berada saat itu saat berbagi secara real time di media sosial.

Ini juga berbahaya karena memberikan peluang seseorang untuk mengintai pola rutinitas setiap harinya.

Belum lagi jika ditambah dengan berbagai informasi lengkap yang dipaparkan seperti kebiasaan di hari Senin, di akhir pekan, dan seterusnya.

Ini bisa dimanfaatkan orang untuk mengikuti ritme tersebut demi melancarkan niat jahatnya.

Pembobolan kata sandi

Oversharing juga bisa memberi celah untuk pembobolan kata sandi.

Terkadang, banyak orang yang hanya memasang password berupa tanggal lahir atau kombinasi lain yang mudah sekali ditebak.

Sekali dicuri, akan sangat mudah bagi pelaku cyber crime untuk membobol aspek kehidupan Anda.

Bully

Seperti yang kita ketahui, netizen +62 punya kebiasaan jempol enteng, alias asal komen di postingan orang tang tidak dikenal hanya untuk menghujat.

Apa saja bisa dijadikan bahan perundungan alias bullying oleh pengguna media sosial.

Masa lalu, trauma masa kecil, pengalaman buruk, penampilan, bahkan menyampaikan pendapat saja bisa jadi sumber masalah baru.

Ini bisa berdampak buruk pada kesehatan mental orang yang mengalaminya.

Sebab, tidak ada satu opini seragam terhadap sebuah topik. Jadi, bisa saja apa yang kamu rasa benar ternyata justru diserang oleh netizen.

Dampaknya luar biasa, bahkan bisa berlangsung cukup lama dengan dampak yang merusak.

Kesehatan mental menurun, menyebabkan kecemasan

Nah, risiko terakhir sangat berkaitan erat dengan risiko-risiko sebelumnya.

Terlalu sering melihat kehidupan pribadi orang lain bisa menimbulkan rasacemburu yang akhirnya jadi membandingkannya dengan kehidupan kita.

Jika terus dibiarkan, lama-kelamaan ini bisa berpengaruh pada kesehatan mental, seperti menyebabkan kecemasan.

Tanpa disadari terkadang kita saling bersaing untuk menunjukkan hal-hal yang bersifat pribadi demi mendapatkan likes dan comments.

Namun, semakin terkenal postingan kamu tentunya akan mengundang banyak komentar negatif juga dari sembarang orang yang sebenarnya tidak mengenalmu.

Ini juga berpotensi memicu stres karena ketergantungan akan pengakuan lewat likes dan komen di media sosial.

(*)

Editor : Ruhil Yumna

Sumber : Sonora.ID

Baca Lainnya